Bintang bertemu dengan Kiswinar di sebuah kafe yang letaknya tidak begitu jauh dengan kediamannya di kawasan Bekasi, Jawa Barat.
“Hari ini kebetulan saya libur mengajar di sekolah, makanya kita bisa bertemu,” tutur Kiswinar, yang kemudian memesan segelas kopi.
Raut wajah Kiswinar sangat cerah. Berbeda dengan kami kali pertama berjumpa awal September lalu.
Kiswinar lega sudah melalui tes DNA pada 8 November lalu di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.1 R Said Sukanto, Jakarta Timur, sesuai perintah penyidik Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Lebih lega lagi hasilnya mengukuhkan, dirinya anak kandung Mario.
Hasil tes DNA ini diumumkan Polda Metro Jaya pada 25 November. Sebenarnya, Kiswinar sudah mengetahui hasilnya beberapa hari sebelumnya. Saat itu, penyidik mengundangnya, Aryani, dan Mario untuk duduk bareng di Polda Metro Jaya. Hari yang penting bagi Kiswinar.
“Saya sampai tidak mengajar dan meminta izin supaya bisa datang ke Polda Metro Jaya,” Kiswinar bercerita. “Yang diundang penyidik yang ikut tes DNA saja, selain itu tidak boleh datang,” tambahnya.
Kali terakhir ia bertatap muka dengan Mario adalah pada 2003, di sebuah restoran di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Waktu itu Kiswinar, yang masih berusia 17 tahun, meminta Mario untuk membantu membiayai kuliahnya. Sayangnya, Mario tidak berkenan dan melepas tanggung jawabnya.
Dalam perjalanan menuju Polda, ia membayangkan akan seperti apa jadinya pertemuan itu.
“Tentu saya berpikir, wah, bisa bertemu dengan Papa. Waktu tes DNA tidak bertemu, meskipun kami ada di dalam rumah sakit yang sama,” urai pria berkulit sawo matang itu.
Sampai di Subdit Resmob Direskrimum, Kiswinar dan Aryani dipersilakan memasuki ruangan.
“Waktu itu masih pagi, jamnya saya lupa,” ucapnya.
Masuk ke dalam ruangan pertemuan, Mario ternyata sudah terlebih dulu ada di sana.
Layaknya orang yang baru datang, Kiswinar dan Aryani mengucapkan salam sambil berjabat tangan dengan orang-orang yang menanti kehadiran mereka di dalam ruangan, termasuk Mario.
“Sedikit canggung dan sungkan ketika akhirnya bertemu dengan Papa,” ungkapnya mengenai perasaaannya saat itu.
“Saya dan Papa berjabat tangan, tetapi tidak seperti berjabat tangan biasa. Dia mencoba memeluk saya tetapi tidak terlalu menyentuh badan saya,” Kiswinar berkisah.
Kiswinar ingat, Mario menyapanya dengan sebutan Mas Kis. Aneh baginya mendengar panggilan itu.
“Dulu Papa memanggil saya Mas Ayo,” katanya.
“Lalu Papa bilang begini, ‘Sudah lama sekali, ya tidak bertemu,’” ia menirukan ucapan Mario.
Aryani, yang dinikahi Mario pada 1984, juga terlibat dalam perbincangan.
“Papa memanggil Mama ‘Ibu Aryani’,” kata Kiswinar.
Aryani menanyakan kabar mantan suaminya itu. Mario memberikan jawaban yang mengejutkan Kiswinar.
“Dia menjawab, selalu super,” bilang Kiswinar.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 40 menit itu, Kiswinar dan Aryani duduk berseberangan dengan Mario.
“Kami cuma dipisahkan oleh meja,” ucapnya. Polisi membacakan secara terperinci hasil tes DNA Kiswinar, Mario, dan Aryani.
“Ketika polisi memberitahukan hasil tes DNA, Papa cuma bilang alhamdulillah,” sambung Kiswinar.
Setelah pertemuan berakhir, Kiswinar sempat berbincang lagi dengan Mario. Mario meminta anaknya untuk mencabut laporan terhadapnya.
“Papa bilang begini, ‘Tak perlu beperkara seperti ini.’ Saya diam saja, hanya manggut-manggut,” ungkap Kiswinar, yang nomor ponsel pribadinya sudah diminta oleh Mario.
(han/gur)
http://ift.tt/2hztbXP
0 comments:
Post a Comment